Copypaste dari ruangfilm.com
“Ketika Cinta Bertasbih”, Siap Diangkat ke Layar Lebar
Jakarta-RuangFilm, Kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy membuat karyanya menjadi incaran selanjutnya untuk di filmkan. Kali ini, rumah produksi Sinemart Pictures milik Leo Sutanto tengah bersiap mengadaptasi novel Kang Abik berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”.
Tak tanggung-tanggung, dua nama besar perfilman nasional, Chaerul Umam dan Imam Tantowi akan berduet sebagai sutradara dan penulis skenario. Sangat menarik, mengingat prestasi Chaerul yang telah meraih Piala Citra 1992 di Ramadhan dan Ramona dan penghargaan pada Festifal Film Asia 1977 di film Al Kautsar. Juga Imam Tantowi yang meraih Citra 1991 di Soerabaia’45 untuk sutradara terbaik dan Citra 1989 di Si Badung untuk kategori Penulis Cerita Terbaik.
“Ketika Cinta Bertasbih” yang terdiri atas dua buku (dwilogi) memakai dua setting latar Mesir dan Indonesia. Episode pertama mengenai pengembaraan Khairul Azzam untuk menuntut ilmu di Al-Azhar, Kairo, dan perjuangannya selama sembilan tahun untuk menyelesaikan studi S1 di Al-Azhar sambil mencari biaya pendidikan adik-adiknya di tanah air dengan berjualan bakso dan tempe pada para mahasiswa maupun warga Indonesia di Kairo.
Untuk episode dua mengenai pencarian cinta Khairul Azzam di tanah kelahirannya (Pulau Jawa). Episode dua akan membuat Anda berlinang air mata saat Azzam kehilangan orang yang sangat dicintainya dan kenangan Husna (Adik Azzam) ketika Ayah mereka dipanggil oleh Sang Khalik.
Untuk kepentingan promo, rencananya soft launching akan di gelar pada Selasa (24/3) nanti di The Sultan Hotel (dulu Hilton_red), Jakarta. (Musashi)
Senin, 05 Mei 2008
Ketika Cinta Bertasbih Review
Ketika Cinta Bertasbih
Pengarang : Habibburahman El Shirazy
Review by : Regantini S Asmowidjojo
kata: 600
Diterbitkan di: Maret 12, 2007
Ceritanya Subhanallah banget. Seperti beberapa novel garapan sebelumnya oleh penulis yang sama, Habiburahman El Shirazy berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca melalui novel yang terbit dalam dua jilid ini. Meskipun di jilid pertama ini ceritanya agak loncat-loncat, namun tidak mengurangi keruntutan jalan cerita yang dibangun oleh penulis. Karya dwilogi ini masih bercerita dengan latar belakang Mesir. Pemeran utama dimainkan oleh Abdullah Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang datang jauh-jauh dari pelosok desa di pulau jawa untuk melanjutkan studinya di Mesir. Azzam, demikian nama panggilan pemuda itu, adalah seorang pekerja keras. Ia memiliki beberapa adik yang harus dibiayainya, hingga dengan kekhlasan hati ia harus berkorban dengan menjadi penjual bakso dan pembuat tempe. Ceritanya penuh dengan romantika yang sarat dengan hikmah. Isinya bagus serta dapat mengajari kita soal hidup, cinta dan bagaimana mengatur skala prioritas dalam mengambil tindakan. Tersebutlah bahwa Azzam adalah mahasiswa Indonesia di Al Azhar, yang belajar disana karena berhasil memperebutkan beasiswa dari Departemen Agama. Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan.
Kecerdaan Azzam kian terbukti tatkala di tahun pertama menimba ilmu di Al Azhar ia memperoleh predikat jayyid jidda (istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari Majlis A'la.
Namun ditahun kedua, ayahnya yang tinggal di Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan. Sepeninnggal ayahnya, ibunya sering sakit-sakitan. Padahal di Indonesia, ketiga adik perempuannya belum bisa diharapkan membantu ibunya karena baru beranjak dewasa. Yang seharusnya membantu ibu dan adik-adik nya di Indonesia adalah Azzam. Sebab dia adalah sulung di keluarganya. Azzam menyadari itu. Maka sejak saat itulah ia mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di Cairo, bekerja sambil belajar.
Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Karena lebih fokus ke bisnis, hasilnya prestasinya semakin lama semakin menurun, beberapa kali tidak naik tingkat, padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir tapi belum lulus S1. Meskipun pada akhirnya lulus juga dengan predikat yang tidak mengecewakan, jayyid. Namun disisi lain di belahan Indonesia, keluarganya suskes berkat motivasi dan biaya hidup darinya. Adik-adik nya semua "menjadi orang".
Ketika Cinta Bertasbih oleh Habibburahman El Shirazy
Pengarang : Habibburahman El Shirazy
Review by : Regantini S Asmowidjojo
kata: 600
Diterbitkan di: Maret 12, 2007
Ceritanya Subhanallah banget. Seperti beberapa novel garapan sebelumnya oleh penulis yang sama, Habiburahman El Shirazy berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca melalui novel yang terbit dalam dua jilid ini. Meskipun di jilid pertama ini ceritanya agak loncat-loncat, namun tidak mengurangi keruntutan jalan cerita yang dibangun oleh penulis. Karya dwilogi ini masih bercerita dengan latar belakang Mesir. Pemeran utama dimainkan oleh Abdullah Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang datang jauh-jauh dari pelosok desa di pulau jawa untuk melanjutkan studinya di Mesir. Azzam, demikian nama panggilan pemuda itu, adalah seorang pekerja keras. Ia memiliki beberapa adik yang harus dibiayainya, hingga dengan kekhlasan hati ia harus berkorban dengan menjadi penjual bakso dan pembuat tempe. Ceritanya penuh dengan romantika yang sarat dengan hikmah. Isinya bagus serta dapat mengajari kita soal hidup, cinta dan bagaimana mengatur skala prioritas dalam mengambil tindakan. Tersebutlah bahwa Azzam adalah mahasiswa Indonesia di Al Azhar, yang belajar disana karena berhasil memperebutkan beasiswa dari Departemen Agama. Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan.
Kecerdaan Azzam kian terbukti tatkala di tahun pertama menimba ilmu di Al Azhar ia memperoleh predikat jayyid jidda (istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari Majlis A'la.
Namun ditahun kedua, ayahnya yang tinggal di Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan. Sepeninnggal ayahnya, ibunya sering sakit-sakitan. Padahal di Indonesia, ketiga adik perempuannya belum bisa diharapkan membantu ibunya karena baru beranjak dewasa. Yang seharusnya membantu ibu dan adik-adik nya di Indonesia adalah Azzam. Sebab dia adalah sulung di keluarganya. Azzam menyadari itu. Maka sejak saat itulah ia mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di Cairo, bekerja sambil belajar.
Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Karena lebih fokus ke bisnis, hasilnya prestasinya semakin lama semakin menurun, beberapa kali tidak naik tingkat, padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir tapi belum lulus S1. Meskipun pada akhirnya lulus juga dengan predikat yang tidak mengecewakan, jayyid. Namun disisi lain di belahan Indonesia, keluarganya suskes berkat motivasi dan biaya hidup darinya. Adik-adik nya semua "menjadi orang".
Ketika Cinta Bertasbih oleh Habibburahman El Shirazy
Hanung Bakal Filmkan Ketika Cinta Bertasbih
Hanung Bakal Filmkan Ketika Cinta Bertasbih
JAKARTA - Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Hingga Senin (3/3) malam, film yang resmi di-launching 25 Februari lalu itu sudah meraup hampir 800 ribu penonton dari berbagai daerah.
Di hari pertama, MD Pictures melempar 70 copy film. Namun, karena permintaan terus meningkat, jumlah copy tersebut berangsur ditambah. Kemarin sudah mencapai 101 copy yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jumlah ini masih bisa terus bertambah. Bergantung permintaan,” ujar Iwit, salah seorang staf MD Pictures, saat dihubungi kemarin (4/3).
Tingginya animo penonton membuat beberapa bioskop membuka lebih dari satu teater untuk menampung peminat film yang diangkat dari novel best seller berjudul sama karangan Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik itu.
Menurut Iwit, Studio Empire di Medan, Sumatera Utara, malah memutar AAC di empat teater di antara enam teater yang ada. Demi mendapatkan kursi yang diinginkan, ada penonton yang rela membeli tiket sehari bahkan dua hari sebelum pertunjukan.
Kesuksesan itu, sepertinya, menjadi angin segar bagi orang-orang yang sudah susah payah mewujudkan film tersebut. “Bukan lega, saya malah kaget,” ucap sutradara AAC Hanung Bramantyo kemarin.
Keterkejutan itu, papar Hanung, disebabkan film yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, dan Carissa Putri tersebut sebetulnya tidak memenuhi ekspektasinya. Sejak awal, sutradara film Get Married itu memang mengungkapkan kekecewaan karena tidak dapat mewujudkan keinginannya melakukan syuting AAC di Kairo, Mesir -kota yang menjadi latar belakang kisah Fahri yang digambarkan Kang Abik.
“Menurut saya, AAC itu kurang maksimal karena tidak sesuai dengan idealisme saya. Sempat nggak pede, karena masih jauh dari ekspektasi saya. Makanya, saya nggak nyangka dapat sambutan sebaik ini,” ungkap pria asal Jogjakarta tersebut.
Beberapa waktu belakangan, Hanung punya kesibukan baru. Yakni, meladeni undangan kelompok masyarakat untuk nonton bareng film AAC. Mulai karyawan perusahaan hingga ibu-ibu pengajian. “Ustadz Jeffry (Uje) juga ngundang saya nonton bareng santri-santrinya. Alhamdulillah sambutannya baik sekali,” kata Hanung.
Harapannya, apresiasi masyarakat terhadap filmnya akan terus meningkat hingga mencapai target dua juta penonton. “Dua juta penonton itu baru bisa balik modal. Syukur-syukur bisa lebih dari itu,” tukasnya.
Ke depan, Hanung berniat menggarap film dengan tema serupa. Dia menyatakan sudah berencana untuk memfilmkan novel best seller Kang Abik lainnya yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB). “Saya sudah ngomong sama Kang Abik. Tapi, ya, baru sekadar omong-omong biasa saja,” ujarnya.
Kalau di AAC Hanung merasa kurang puas, dia bertekad untuk berusaha lebih keras lagi. Salah satunya, mewujudkan impiannya untuk syuting di Cairo. “Saya akan coba berusaha lebih maksimal lagi supaya bisa syuting di sana,” paparnya.
Seperti AAC, KTB yang bukunya terdiri atas dua seri (dwilogi) itu juga berlatar belakang keindahan kota Piramid. Dari segi cerita, KTB masih berkisah tentang seorang pemuda Jawa yang kuliah di Universitas Al Azhar. Untuk membiayai kuliahnya, pemuda bernama Chairul Azzam tersebut bekerja sambilan, yakni menjadi pembuat tempe dan sesekali menjadi tukang masak panggilan. Selain kegigihannya menyelesaikan kuliah sekaligus menghidupi keluarga, alur cerita KCB juga sarat dengan kisah romantis yang mengantarkan Azzam menemukan jodohnya. Untuk produksi KCB, Hanung berniat melibatkan teman-temannya di Dapur Film Community, Jakarta, dan mencari production house (PH) baru.
“Harapannya, saya bisa dapat PH yang muslim biar visi-misinya lebih menyatu,” pungkas Hanung. (rie/ayi)
JAKARTA - Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Hingga Senin (3/3) malam, film yang resmi di-launching 25 Februari lalu itu sudah meraup hampir 800 ribu penonton dari berbagai daerah.
Di hari pertama, MD Pictures melempar 70 copy film. Namun, karena permintaan terus meningkat, jumlah copy tersebut berangsur ditambah. Kemarin sudah mencapai 101 copy yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jumlah ini masih bisa terus bertambah. Bergantung permintaan,” ujar Iwit, salah seorang staf MD Pictures, saat dihubungi kemarin (4/3).
Tingginya animo penonton membuat beberapa bioskop membuka lebih dari satu teater untuk menampung peminat film yang diangkat dari novel best seller berjudul sama karangan Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik itu.
Menurut Iwit, Studio Empire di Medan, Sumatera Utara, malah memutar AAC di empat teater di antara enam teater yang ada. Demi mendapatkan kursi yang diinginkan, ada penonton yang rela membeli tiket sehari bahkan dua hari sebelum pertunjukan.
Kesuksesan itu, sepertinya, menjadi angin segar bagi orang-orang yang sudah susah payah mewujudkan film tersebut. “Bukan lega, saya malah kaget,” ucap sutradara AAC Hanung Bramantyo kemarin.
Keterkejutan itu, papar Hanung, disebabkan film yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, dan Carissa Putri tersebut sebetulnya tidak memenuhi ekspektasinya. Sejak awal, sutradara film Get Married itu memang mengungkapkan kekecewaan karena tidak dapat mewujudkan keinginannya melakukan syuting AAC di Kairo, Mesir -kota yang menjadi latar belakang kisah Fahri yang digambarkan Kang Abik.
“Menurut saya, AAC itu kurang maksimal karena tidak sesuai dengan idealisme saya. Sempat nggak pede, karena masih jauh dari ekspektasi saya. Makanya, saya nggak nyangka dapat sambutan sebaik ini,” ungkap pria asal Jogjakarta tersebut.
Beberapa waktu belakangan, Hanung punya kesibukan baru. Yakni, meladeni undangan kelompok masyarakat untuk nonton bareng film AAC. Mulai karyawan perusahaan hingga ibu-ibu pengajian. “Ustadz Jeffry (Uje) juga ngundang saya nonton bareng santri-santrinya. Alhamdulillah sambutannya baik sekali,” kata Hanung.
Harapannya, apresiasi masyarakat terhadap filmnya akan terus meningkat hingga mencapai target dua juta penonton. “Dua juta penonton itu baru bisa balik modal. Syukur-syukur bisa lebih dari itu,” tukasnya.
Ke depan, Hanung berniat menggarap film dengan tema serupa. Dia menyatakan sudah berencana untuk memfilmkan novel best seller Kang Abik lainnya yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB). “Saya sudah ngomong sama Kang Abik. Tapi, ya, baru sekadar omong-omong biasa saja,” ujarnya.
Kalau di AAC Hanung merasa kurang puas, dia bertekad untuk berusaha lebih keras lagi. Salah satunya, mewujudkan impiannya untuk syuting di Cairo. “Saya akan coba berusaha lebih maksimal lagi supaya bisa syuting di sana,” paparnya.
Seperti AAC, KTB yang bukunya terdiri atas dua seri (dwilogi) itu juga berlatar belakang keindahan kota Piramid. Dari segi cerita, KTB masih berkisah tentang seorang pemuda Jawa yang kuliah di Universitas Al Azhar. Untuk membiayai kuliahnya, pemuda bernama Chairul Azzam tersebut bekerja sambilan, yakni menjadi pembuat tempe dan sesekali menjadi tukang masak panggilan. Selain kegigihannya menyelesaikan kuliah sekaligus menghidupi keluarga, alur cerita KCB juga sarat dengan kisah romantis yang mengantarkan Azzam menemukan jodohnya. Untuk produksi KCB, Hanung berniat melibatkan teman-temannya di Dapur Film Community, Jakarta, dan mencari production house (PH) baru.
“Harapannya, saya bisa dapat PH yang muslim biar visi-misinya lebih menyatu,” pungkas Hanung. (rie/ayi)
Langganan:
Postingan (Atom)